Tuesday , November 20 2018
Home > Berita > Kata drg Aloysius Giyai Soal Persiapan Dinkes Papua Jelang PON 2020

Kata drg Aloysius Giyai Soal Persiapan Dinkes Papua Jelang PON 2020

JAKARTA (Bisnis Papua) – Kepala Dinas Kesehatan provinsi papua drg Aloysius Giyai usai menggelar pertemuan dalam rangka road show Gubernur Papua Lukas Enembe demi suksesnya PON XX tahun 2020 bersama Menteri Kesehatan Republik Indonesia Prof Dr H Nila Moeloek dan jajarannya. Rabu sore (31/10/2018) Kepada wartawan secara rinci menjelaskan inti dari pertemuan yang berlangsung selama 45 menit di ruang rapat Menkes Nila Moeloek.

Dikatakannya, kalau sudah berbicara dukungan bidang kesehatan untuk penyelenggaraan PON 2020 semua claster di enam kabupaten, tentunya mempunyai spesifikasi tenaga medis yang disiapkan maupun peralatan medisnya itu berbeda – beda.

Contohnya di Kabupaten Biak Numfor khusus untuk cabang olahraga (cabor) selam, tentunya dokter spesialis  hiyperbar yang khusus belajar tentang perairan. “Jadi orang tenggelam atau kecelakaan itu khusus bicara soal cabor karate, tinju dan bela diri. Itu tentu diperkuat dengan doker – dokter traumatik misalnya dokter orthopedi/bedah tulang, bedah syaraf,”jelasnya.

Saat ini pihaknya telah menyiapkan kurang lebih ada 45 dokter spesialis yang akan disiapkan memimpin tim pada cabor – cabor dan venue. Itu kekhususan. Diakuinya para dokter ahli ini punya spesifikasi kompetensi pendidikannya. Tetapi pihaknya harus pastikan mereka itu kekhususan dalam sport medical center. Dimana mereka dilatih khusus untuk penanganan kegawat daruratan di arena – arena olahraga.

Selain itu juga tidak kalah pentingnya, setiap  cabor, setiap venue akan disiapkan khusus untuk keamanan pengamanan pangan, makan, minum, yang betul – betul dijamin dengan dokter – dokter ahli gizi dan nutrisi.

Sedangkan pada daerah – daerah endemik malaria dimana ada beberapa kabupaten yang Annual Parasite Incidence (API), indeksnya tinggi seperti Timika, Kabupaten Jayapura dan Keerom. Tetapi akan diselenggarakan PON. Harus dipastikan dengan survei. Vektor – vektor itu sudah betul – betul bebas yang menimbulkan penyakit malaria, dengan melibatkan khusus dokter ahli malaria. Tidak hanya itu saja, tetapi juga penyakit – penyakit dalam. Terutama penyakit tropical dan juga dokter penyakit dalam tropical dan penyakit menular.

Saat ini Dinas Kesehatan provinsi papua sudah membuat grand desain, yang nantinya mengundang setiap klaster di enam kabupaten yakni Kabupaten/Kota Jayapura, Biak Numfor, Jayawijaya, Mimika dan Merauke bersama empat kabupaten penunjang. Nantinya Kepala Dinas dan tim diundang. Termasuk direktur rumah sakit juga diundang.

“Bahwa kita harus susun bersama berdasarkan pengalaman PON XIX di Bandung. Penyelenggaraan Asian Games di Palembang, Sumatera Selatan. Itu akan kita susun dalam sebuah studi yang kita susun untuk Papua,”terangnya.

Aloysius juga mengatakan dukungan Kementerian Kesehatan tidak perlu diragukan. “Mereka sudah menopang selama empat tahun ini luar biasa. Tinggal nanti pengaturan, seperti masalah alokasi Dana Khusus atau DAK dari Kementerian Kesehatan. Mereka sudah tunjukkan luar biasa terhadap Papua,”pujinya.

Selama empat tahun terakhir diatas tahun 2015 Kementerian Kesehatan sudah gelontorkan dana kesehatan sebesar Rp. 1,4 trilyun. Kemudian di 2017 sebesar Rp.1,7 trilyun. Di tahun 2018 sebesar Rp. 1,8 trilyun dan  rencananya tahun depan di 2019 sebesar Rp. 1,5 trilyun.

“Sekarang itu sudah dana luar biasa. Tinggal bagaimana seluruh suksesi pelaksanaan PON dibidang kesehatan di konsentrasikan pada enam kabupaten claster penyelenggaraan PON dan empat kabupaten penunjang. Sehingga betul – betul semua akan siap di bidang kesehatan,”tuturnya.

Selain itu juga, Dinas Kesehatan provinsi papua akan melakukan pelatihan, peningkatan kapasitas. Terutama bagi para dokter dan tenaga medis, mengenai hal – hal kegawatan daruratan.  Dimana selain memiliki Advanced Trauma Life Support  (ATLS) adalah program pelatihan bagi tenaga medis dalam pengelolaan kasus trauma akut, yang terverifikasi keperawatan penanganan kegawat daruratan. Tetapi juga mereka khusus dilatih bagaimana bertindak di arena olahraga.

Bebas Malaria

Menjawab pertanyaan Bisnis Papua terkait bagaimana Dinas Kesehatan provinsi papua meyakinkan kepada para atlit dari 34 provinsi di Indonesia bahwa Papua aman dari malaria.

Kata drg Giyai, pihaknya akan lakukan berbagai upaya prefentiv mulai akhir tahun 2018.

Dimana secara periodik akan dilakukan kebersihan lingkungan, semuanya harus aman dan tidak ada tempat berkembang biak bibit malaria.

Berikutnya dipastikan rumah – rumahnya sehat di sekitar venue dan juga sanitasi dengan STBM yakni Sanitasi Total Berbasis Masyarakat. Dipastikan enam kabupaten ini betul – betul masyarakatnya sudah terbiasa dengan sistem STBM.

Berikutnya semua masyarakat itu, minimal enam bulan sebelum penyelenggaraan PON 2020 dipastikan semua eliminasi malaria. Tidak ada lagi masyarakat satu yang terjangkit malaria. Karena itu potensi untuk menularkan.

“Jadi kita targetkan H-6 bulan. Awal bulan Maret pada bulan April tahun 2020 itu lokasi – lokasi kita sudah bebas dari malaria dan dipastikan semua masyarakat sekitar kita sudah memberikan obat anti malaria sebelum jauh preventif,”bebernya.

1500 Tenaga Perawat

Selanjutnya terkait jumlah tenaga medis yang dipersiapkan. Kata Giyai, khusus dokter spesialis untuk sub-nya telah dipersiapkan minimal 45 orang.

Sedangkan sub spesialis biasa tentunya akan lebih banyak. Apalagi tenaga perawat untuk sementara  saat ini kurang lebih 1500 orang.

Untuk ahli gizinya minimal dua orang pada setiap cabang olahraga, yang ditambah dengan tenaga balai POM, yang memastikan makan minum aman dengan terlebih dahulu dilakukan test sampel makanan.

Untuk mengatasi kekurangan tenaga medis di Papua, pihaknya akan membangun kemitraan bekerjasama dengan Provinsi Maluku, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Utara.

Selain itu juga untuk peralatan kesehatan apakah akan diambil alat dari penyelenggaraan Asian Games 2018. Kata Giyai  Kementerian Kesehatan sudah memberikan kepastian. Seraya memberikan contoh mobil ambulance tidak mudah diboyong semua. “Kami tadi disuruh susun kebutuhannya berapa secara keseluruhan. Termasuk peralatan,”terangnya.

Namun untuk peralatan medis, sebenarnya bidang kesehatan ada program rutin. Oleh karena itu janganlah dimulai dari nol. Namun dilihat yang saat ini apa – apa saja yang masih kurang.

“Kami pastikan bahwa semua peralatan yang dipakai itu akan dikalibrasi. Sehingga dipastikan bahwa uji fungsi itu betul – betul alatnya itu siap dipakai tanpa ada gangguan. Terus peralatannya kita akan lakukan pemetaan,”jelasnya.

Semisal Kota Jayapura, rumah sakit ada tiga areal utama yakni Instalasi Gawat Darurat (IGD). Kedua Puskesmas terdekat. Dimana Puskesmas yang akan  dipilih. Misalnya di areal dekat Stadion seperti Kampung Harapan, Kabupaten Jayapura. Yang mana penanganan minimal untuk traumatik sudah siap. Nantinya penerapan ini akan sama dengan claster di kabupaten lain.

RS Provita Jadi Rumah Sakit Rujukan

Kemudian untuk rumah sakit rujukan, yang telah disampaikan dirinya kepada Menteri Nila Moeloek. Bahwa untuk rujukan tertinggi, tetap dipersiapkan adalah RSU Dok II Jayapura.

“Tetapi persyaratan yang ibu menteri sampaikan. Kalau rumah sakit itu belum trakreditasi paripurna tidak bisa dijadikan rumah sakit rujukan PON. Akreditasi menjadi sarat utama,”bebernya.

Saat ini rumah sakit rujukan lainnya di Kota Jayapura sudah berjalan dan hanya RSUD Dok II Jayapura yang mandek alias terhenti.

Dalam pertemuan itu, dirinya juga telah menyampaikan, jika memang Akreditasi RSUD Dok II Jayapura hingga akhir tahun 2019 juga belum dan nilainya belum paripurna. Maka terpaksa alternatif lainnya dipersiapkan RS Provita untuk menjadi rujukan.

“Ini rencana lainnya. Nantikan kami akan undang manajemen RS Provita untuk grand desain pusat rujukan tertinggi. Saat ini mereka ada apa saja. Kalau yang belum kami suruh mereka di tahun 2019 untuk lengkapi dari pihak Yayasan,”jelasnya.

Sehingga dengan keadaan ini tidak boleh pasrah dengan keadaan. Harus ada cara lain yang disiapkan.

Sedangkan untuk persiapan kapal rumah sakit terapung, dalam persiapan sudah direncanakan, yang akan ditempatkan di Biak, Kota Jayapura, Merauke. Terutama kegiatan cabor yang berlokasi di perairan.

“Pokoknya kesehatan itu timnya sudah siap yang kerja. Tinggal sekarang kabupaten itu tanggung apa, provinsi tanggung apa. Kementerian kesehatan tanggung apa.Konsekuensinya harus siap. Karena bupatinya sendiri yang meminta wilayahnya sebagai claster PON. Nanti kalau ada hal yang mereka tidak mampu. Maka dari provinsi dan  pusat akan siap membantu,”tandasnya. (Julia)

About Odeodata H Julia

Leave a Reply