Tuesday , December 11 2018
Home > Berita > Keluarga Theys Eluay Deklarasikan Kematian Almarhum Bukan Pelanggaran HAM

Keluarga Theys Eluay Deklarasikan Kematian Almarhum Bukan Pelanggaran HAM

Caption :  Deklarasi Damai Pengampunan keluarga Theys Eluay  (Aman Hasibuan/Bisnis Papua)

 

 

SENTANI (Bisnis Papua) – Keluarga besar Almarhum Theys Hiyo Eluay menyatakan penculikan dan pembunuhan terhadap almarhum tidak lagi dikatakan sebagai sebuah kasus pelanggaran HAM.

Untuk itu keluarga  meminta semua pihak-pihak agar tidak lagi menjadikan kasus ini sebagai komoditi politik.

Penegasan ini disampaikan anak almarhum, Yanto Eluay mewakili keluarga dalam Deklarasi Damai  memperingati 17 tahun kepergian almarhum Ondofolo Theys Hiyo Eluay di Pendopo Theys, Sentani, Sabtu (10/11/2018).

Deklarasi damai dihadiri pihak keluarga, juga dihadiri para ondofolo Sentani, hadir pula adik, Alm. Gus Dur (Presiden RI ke- 4), Lili Wahid yang meski tidak memiliki hubungan sedarah namun memiliki hubungan cukup dekat dengan almarhum dan keluarganya.

Dalam deklarasi tersebut, keluarga juga menyatakan telah membuka pintu maaf dan mengampuni seluruh pihak atau pribadi yang terlibat baik langsung maupun tidak langsung dalam kematian almarhum pada beberapa tahun silam.

“Bahwa hidup manusia semuanya ada dalam tangan Tuhan Sang Pencipta dan kita manusia hanya menjalani kehendakNya. Sehingga walaupun sedih dan duka kami alami dengan kepergian orang tua kami. Namun seiring waktu dan dengan pertolongan Tuhan kami belajar menjadi kuat dan menerima kenyataan tersebut. Kami sudah maafkan,”kata Yanto Eluay.

Lanjutnya, keluarga meyakini almarhum merupakan pejuang kemanusiaan, penjaga adat dan tradisi  leluhur  serta memperjuangkan Papua agar makin sejahtera dalam semangat persaudaraan dan cinta kasih.

“Oleh karena itu kami menolak politisasi kematian orang tua kami. Dan dengan tegas kami menyatakan Papua tidak boleh dipisahkan  dari NKRI. Sebab adalah salah satu tokoh yang memperjuangkan Papua dalam bingkai NKRI dan perjuangan almarhum sesungguhnya hanya untuk kesejahteraan rakyat Papua, dan sepanjang hal itu dapat diwujudkan maka NKRI adalah harga mati,” tegasnya.

Selain itu juga Keluarga Eluay berjanji untuk meneruskan perjuangan almarhum demi kesejahteraan rakyat Papua  bersama seluruh elemen bangsa Indonesia yang mencintai Republik ini atas dasar Pancasila dan UUD 1945.

Sementara itu, Lili Wahid kepada pers dalam sesi wawancara berharap momentum deklarasi damai ini bisa menjadi langkah awal di Papua dalam rangka menciptakan keadaan yang akan berujung pada kesejahteraan rakyat Papua.

“Kita sebagai manusia tanpa kedamaian, orang tidak bisa hidup tenang. Sebaliknya kalau ada kedamaian, mudah mudahan kesejahteraan akan datang,” harapnya.

Menurut Lili Wahid, pemerintah pusat saat ini kurang memberikan pengarahan kepada pemerintah daerah di Papua, sehingga implementasi Otonomi Khusus (Otsus) untuk kesejahteraan rakyat Papua belum tercapai sepenuhnya. Sehingga masih ada terdengar keinginan dari sebagian masyarakat Papua untuk memisahkan diri dari NKRI karena merasa belum menikmati Otsus.

“Makanya saya akan lakukan pendekatan dengan Mendagri supaya memberikan pengerahan ke pemerintah provinsi juga kabupaten agar kesejahteraan itu bisa tercapai,”kata Lili Wahid.

 Ia menambahkan, dirinya akan mengusulkan kepada pemerintah agar sosok almarhum Theys Eluay bisa disejajarkan dalam deretan pahlawan nasional lainnya. “Karena saya menganggap beliau cukup layak untuk diusulkan sebagai pahlawan nasional. Seperti di Afrika ada Nelson Mandela. Meski perjuangannya tidak sama, tapi yang pasti keduanya berjuang untuk kepentingan rakyat yang dicintainya. Mungkin 2019 atau 2020 kita akan usulkan, karena ada beberapa langkah yang harus dijalankan bersama masyarakat Papua,” janjinya yang juga merupakan salah satu Ketua Ikatan Keluarga Pahlawan ini.(hsb)

 

About Odeodata H Julia

Leave a Reply